19.2.11

Liburan

Libur akhir semester benar-benar menyenangkan. Bagaimana tidak, selain kenaikan kelas, jurusan IPA yang sudah ada dalam impian bisa menjadi kenyataan. Yup, bisa dibilang aku cukup pintar mengikuti jejak orang tua dan para kakak. Berada di jalur ilmu eksak (ilmu pasti). Hari terakhir sekolah berakhir dengan bahagia, cerita bahagiaku untuk Ibu-Ayah.

Selalu ada kebiasaan dalam sebuah keluarga. Apapun yang dilakukan bersama akan meninggalkan kenangan, karena kita adalah keluarga.
Kebiasaan dalam keluargaku, pada saat liburan kami bepergian meninggalkan kota Surabaya. Dan seperti yang sudah-sudah, ayahku adalah orang pertama penyumbang ide terbaik kemana akan menghabiskan hari-hari libur bersama. Tempat yang akan dituju adalah pulau Bali, tanpa berpikir kami langsung menjawab "Iya, mau ke Bali!". Persiapan dari awal hingga akhir dibawa, tak terkecuali peta lokasi wisata Bali.

Perjalanan dimulai,
Semua barang bawaan sudah masuk ke dalam mobil.
Berpamitan dengan pembantu rumah. Mbak Widji, namanya.
Entah mengapa saat akan pergi ia berkata "Jangan lama-lama yia!". Kata itu terus terpikir olehku seperti tak ada kata lain saja yang harus diucapkan.

Pagi bersinar,
Aku duduk di depan, disebelah ayah. Bangku tengah diisi vina, puput, vita. Paling belakang ada ibu, nanda. Makanan ringan lengkap, iringan musik yang tepat. Hampir indah saat itu. Cerita humor, obrolan ringan sepanjang jalan membuat bekas putaran memori tak terlupakan. Setidaknya untuk adikku, vita.
Siang bolong,
kami beristirahat di pom bensin paiton. Sudah cukup, perjalanan berlanjut di kawasan hutan Baluran.

Jalan berliku hampir selesai ditempuh. Saat itu mobil berada dibelakang truk. Ayah bermaksud melihat apakah di depan kesempatan untuk menyalip ada ataukah masih jauh. Ketika sedikit memutar setir ke kanan, tiba-tiba "BRAK!!!" benturan sangat keras dari arah berlawanan oleh truk menghantam mobil hingga tepat berhenti di tengah jalan. Vita yang saat itu sedang tidur, langsung jatuh ke bawah jok dengan darah mengalir dari kepala.
Vita paling parah, dia dilarikan ke puskesmas terdekat. Sayang, keadaan puskesmas selalu sama. Karena perlengkapan medis kurang lengkap, kenyataan bahwa Vita tak terselamatkan harus diterima. Kata suster tempurung kepalanya pecah.
Miris untuk diceritakan, karena ini pertama kalinya aku melihat - merasakan - kehilangan.
Kami kembali ke rumah membawa duka, liburan yang seharusnya bahagia menjadi perjalanan yang tertunda.